Beranda > Refleksi > Perjalanan

Perjalanan

Sabtu Ahad kemarin saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman di Magelang. Perjalanan dari Tangerang ke Magelang saya tempuh dengan menggunakan kereta api. Seperti kebiasaan, kereta api yang saya naiki selalu penuh setiap Jumat malam. Banyak orang yang pulang ke rumah atau kampung halamannya setiap akhir pekan.

Saking penuhnya, tidak semua orang mendapatkan tiket duduk. Banyak orang yang mendapatkan tiket berdiri, tiket tanpa nomer tempat duduk. Walhasil sepanjang perjalanan mereka harus duduk di lantai gerbong, beralaskan kertas koran.  Ataupun dengan merebahkan diri di lantai, dengan resiko akan dilangkahi oleh penumpang lain atau pedagang asongan yang berlalu lalang.

Namun hal itu bukanlah suatu alasan yang menghalangi niatan mereka untuk pulang ke rumah. Perjalanan dalam kondisi yang tidak mengenakkan, yang harus ditempuh dalam 10-12 jam,  cukup sebanding dengan kesempatan tuk pulang. Kesempatan tuk sampai di rumah, kesempatan tuk bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai.  Semua ketidaknyamanan selama perjalanan itu akan terbayar lunas saat mereka bertemu dengan orang yang mereka cintai. Tujuan akhirlah yang membuat mereka bertahan dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan.

Bila untuk perjalanan di dunia, kita sanggup tuk bertahan.
Bagaimanakah dengan perjalanan kehidupan itu sendiri ?
Bukanlah hidup kita ini adalah sebuah perjalanan ?
Perjalanan tuk pulang ke rumah kita yang abadi, pulang ke kampung akhirat.

Seharusnya kita menyadari, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sebuah perjalanan. Kehidupan di dunia bukanlah tujuan akhir kita, kehidupan setelah kehidupan di dunialah tujuan yang ingin kita capai.

Apabila kita menyadarinya, maka semua kesulitan yang kita hadapi dalam “perjalanan” ini bukanlah sebuah penghambat. Sesusah apapun “perjalanan” ini, kita akan bertahan. Tidak ada cukup alasan yang dapat membuat kita tuk berhenti dalam“perjalanan”  ini.

Karena kita tahu, “perjalanan” ini hanya sebentar. Karena kita tahu disana sudah menanti tujuan kita yang sebenarnya, tujuan akhir kita, kampung akhirat. Tempat yang abadi, tempat kita berkumpul dengan yang kita cintai. Semoga.

Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari).

Iklan
Kategori:Refleksi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: